Akses Petani pada Modal Terbatas, Suku Bunga Usaha Tani pun Tinggi
April 4, 2017
SultengEkspres (755 articles)
0 comments
Share

Akses Petani pada Modal Terbatas, Suku Bunga Usaha Tani pun Tinggi

Palu, SultengEkspres.com – Sejumlah masalah masih mengadang arah kebijakan pembangunan pertanian di Sulawesi Tengah pada 2018 mendatang. Masalah-masalah itu meliputi keterbatasan infrastruktur dan sarana prasarana lahan dan air, rendahnya akses petani terhadap permodalan dan masih tingginya suku bunga usaha tani, juga masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh serta belum intensnya koordinasi kerja antar sektor.

Demikian yang terungkap pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah yang dibuka Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Derry Badrun Djanggola, Selasa, 4 April 2017 di Hotel SwissBell Palu.

Olehnya Sekda yang mewakili Gubernur Longki Djanggola berharap terjalin kerjasama dan koordinasi dari parapihak, para peserta musrenbang pertanian berdasarkan porsi masing-masing untuk meningkatkan hasil dan menyelesaikan permasalahan yang ada. “Yakni pemerintah selaku fasilitator dan regulator, sedang eksekutor di lapangan adalah petani, peternak dan para pelaku lainnya,” tandas dia.

Musrenbang pertanian ini diikuti tidak kurang 400 peserta meliputi para pegawai dari Dinas Provinsi, dan kabupaten/kota yang membidangi pertanian, perkebunan, peternakan dan pangan, para penyuluh, unsur Bappeda serta perwakilan asosiasi tani.

Musrenbang pertanian 2017 ini mengangkat tema ‘Sinergitas Kebijakan Pembangunan Pertanian dalam Mendorong Peningkatan Produksi Komoditas Strategis Dan Unggulan Menuju Sulawesi Tengah Yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing’

Secara umum capaian kinerja pembangunan pertanian Sulteng 2016 meliputi produksi padi sebesar 1.101.345 ton, produksi jagung sebesar 316.815 ton, dan kedelai sebesar 15.418 ton.

Dari sub sektor perkebunan, produksi kakao Sulteng mencapai 148.278 ton, kelapa dalam sebesar 164.659 ton, dan cengkeh 14.891 ton. Dari sub sektor peternakan, populasi ternak sapi mencapai 320.537 ekor dan kambing 402.124 ekor.

Lalu, jumlah penduduk rawan pangan Sulteng pada 2016 turun menjadi 14,56 persen dari sebelumnya 17,55 persen pada 2015.

Sementara secara makro, PDRB pertanian Sulteng (diluar perikanan dan kehutanan) terus meningkat dari sebesar Rp25.107.000 pada 2015 menjadi Rp26.027.000 pada 2016.

Sedang untuk indikator kesejahteraan petani, data NTP gabungan rata-rata tahun 2016 sebesar  93,35 persen, turun sebesar 8,85 persen daripada NTP 2015 sebesar 102,20 persen.

Pada kesempatan itu, Sekda Derry juga menyampaikan arah kebijakan masing-masing sub sektor 2018 yaitu sub sektor tanaman pangan dan hortikultura untuk tetap mempertahankan swasembada dan meningkatkan kontribusi Sulteng terhadap komoditas pajala (padi, jagung dan kedelai) serta bawang merah dan cabe.

Untuk sub sektor perkebunan, meningkatkan produksi kakao, kelapa dalam, cengkeh dan kelapa sawit. Sedang sub sektor peternakan, Sekda berharap stakeholder menyukseskan program Sulteng sejuta sapi lewat inseminasi buatan dan upsus siwab (upaya khusus sapi indukan wajib bunting)

Turut menghadiri Musrenbang Pertanian Sulteng ini adalah Sekjen Kementerian Pertanian RI, Bupati Sigi Irwan Lapata, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Trie Iriany Lamakampali, Kadis Perkebunan dan Peternakan Nahyun Biantong dan Kadis Pangan Abdullah Kawulusan. (hum)

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *