Belajar Kesabaran dan Keteguhan Hati dari Reynaldi
June 30, 2017
SultengEkspres (729 articles)
0 comments
Share

Belajar Kesabaran dan Keteguhan Hati dari Reynaldi

NAMA bocah ini adalah Reynaldi Setiawan. Baru 7 tahun usianya kini. Tapi apa yang sudah dilaluinya cukup untuk menjadi kisah. Mungkin ada tawa, tangis dan haru biru. Plot ceritanya tentu sungguh dramatis. Unsur dramaturgi terpenuhi. Lalu akhirnya adalah sang tokoh menjadi bahagia. Hidup makmur atau tersohor. Kemudian orang-orang jahat dibui atau hidup dalam kesepian.

Hanya saja Reynaldi tidak hidup di dunia sinema elektronik yang rajin ditayangkan di layar televisi kita. Ia tengah mengikuti jalan takdirnya. Menjadi apa ia kelak hanya kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa sandarannya. Bocah ini adalah salah seorang penghuni Panti Asuhan Aljabbarru di bilangan Jalan Lagarutu, Tanamodindi, Mantikulore, Palu.

Karena ia hanya penghuni Panti Asuhan, tentu ia tidak setenar Longki Djanggola, Gubernur Sulawesi Tengah. Tapi, Kamis, 22 Juni 2017, Dialah yang menarik perhatian Kepala Daerah yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng itu.

“Sabar anak ini,” sebut Longki singkat. Ia duduk memerhatikan Reynaldi yang tengah menyantap nasi kotaknya usai shalat Magrib berjamaah di Masjid kecil di lingkungan Panti Asuhan Aljabbaru.

Sambil mengamati, kepada Meiti Afrida, Pengasuh di Panti Asuhan ini, Longki bertanya hal ikhwal bocah ini.

“Dia diserahkan ibunya pada malam hari sekira jam sepuluh malam lima tahun lalu. Waktu diserahkan umurnya baru dua tahun. Ibunya menitip Reynaldi di Panti ini untuk diasuh. Ia juga menyerahkan akte kelahirannya,” tutur Meiti.

Sontak, Longki terkejut. Ia tak menyangka jalan hidup bocah ini bak kisah-kisah sinema elektronik. Usia 2 tahun diserahkan ibunya ke Panti dan kini ia sudah berusia 7 tahun. Sungguh jalan hidup yang tidak biasa.

“Kalau saya ketemu di jalan, saya mungkin tidak kenal lagi wajah ibunya. Saya tidak perhatikan lama-lama wajahnya ketika menyerahkan Reynaldi pada saya. Apalagi waktu itu sudah malam,” aku Meiti.

Oleh bocah kelas 1 Sekolah Dasar Inpres I Tanamodindi itu, Meiti dipanggil Ibu. Dan memang cuma Meiti-lah yang dikenal Reynaldi sebagai ibunya.

“Untung ibunya pintar. Sebelum dia titip dia sudah buatkan anaknya akte kelahiran, sehingga lebih mudah mengurusinya saat mau mendaftar sekolah,” kata Ibu Asuhnya itu.

Jalan hidup Reynaldi adalah kisah. Ada pelajaran kesabaran di dalamnya. Bocah ini sudah menyadari selain Ibunya, tidak ada sosok lain yang dapat dipanggilnya sebagai ayah. Kadang ia menangis bila kawan-kawan sepantarannya menggoda dengan menanyakan di mana ayahnya. Bila sudah begitu, maka Meitilah yang menenangkannya. Tapi sebagai ibu asuh, tentu ia tak ingin menambah kesedihannya dengan menceritakan hal ikhwal dirinya.

“Saat ia sudah dewasa, pasti dia akan tahu sendiri kisah hidupnya. Sekarang biarlah dia tahu saya ibunya,” hemat Meity.

Bocah Reynaldi sungguh memberi pelajaran kesabaran hidup. Ia juga terlihat tenang dan teguh hati. Gubernur Longki terkesima. Ia tak hendak beranjak hingga bocah itu selesai menyantap makanannya. Lahap nian Reynaldi menikmati nasi putih dan ayam goreng yang disediakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia saat berbagi kasih di Panti Asuhan Aljabbaru, Kamis, 22 Juni 2017 lalu.

Saya yang menulis, juga Gubernur Longki berharap agar tulisan ini bisa dibaca oleh Ibu Kandung Reynaldi. Bocah yang sabar dan teguh hati itu berhak tahu kisah hidupnya langsung dari mulut perempuan yang mengandung dan melahirkan lalu kemudian menitipkannya di Aljabbaru. Semoga. (jgb)

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *