Gubernur Longki Minta Penulis Buku Tito Lengkapi Kisah Poso Terkini
July 14, 2017
SultengEkspres (767 articles)
0 comments
Share

Gubernur Longki Minta Penulis Buku Tito Lengkapi Kisah Poso Terkini

Palu, SultengEkspres.com – Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, Sejumlah Perwira TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan Kepolisian serta sejumlah jurnalis dan mahasiswa di Hotel Palu Golden, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 14 Juli 2017 membedah buku biografi Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi H.M. Tito Karnavian.

Buku berjudul; Tito Karnavian dalam Pusaran Terorisme; Catatan dari Tepian Musi ke Puncak Tribata itu ditulis oleh Syaefurrahman Albanjary dan Suryadi, dua orang jurnalis yang selama ini mengikuti perjalanan karir Kapolri termuda itu.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sulawesi Tengah, Sofyan Faried Lembah yang menjadi pembedah buku itu mengatakan sebelumnya secara pribadi dirinya tidak respek pada sosok Tito, namun setelah membaca buku itu ia mengaku kagum pada sepak terjang pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964 ini.

“Hanya saja, buku ini belum memenuhi harapan saya, khususnya dalam bagian tentang keterlibatan Tito di dalam penyelesaian konflik Poso. Kisah tentang Imam Masjid di Buyung Katedo dan beberapa yang lainnya sama sekali tidak ditulis. Sementara, mutilasi atas tiga orang pelajar putri SMA setempat ditulis. Saya meminta agar penulis mengeksplorasi lagi soal itu agar menghadirkan cerita tentang Poso secara utuh,” sebut dia.

Buku setebal 427 halaman ini memang diniati menuliskan kisah perjalanan hidup Tito Karnavian hingga mencapai posisi puncak sebagai Kapolri.

Ada banyak kisah yang mengemuka. Termasuk kisah yang tak sempat diketahui khalayak. Misalnya, cerita tentang pengusaha di Palu, Rizal Tjahjadi yang rumahnya di Jalan Chairil Anwar dikontrak oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror yang dipimpin Tito. Ia tak tahu sama sekali bahwa yang mengontrak rumahnya itu adalah para perwira elit antiteror Mabes Polri. Rizal baru tahu kemudian setelah ada tetangganya melaporkan bila melihat ada orang diborgol dimasukkan ke dalam rumah kontrakan ini.

Sebagai referensi, buku ini layak ini dibaca, meski ada beberapa bagian yang mesti dilengkapi. Salah satu bagian penting yang mesti dimasukkan adalah kondisi Poso terkini yang makin aman dan kondusif.

“Selama ini kita sudah berusaha menghapus stigma, menghancurkan anggapan bahwa Poso terus rusuh. Poso kini sudah aman. Adapun yang terus diburu oleh Polisi hanya segelintir orang itu. Sementara secara umum Poso sudah sangat aman. Stigma itu bisa hapus dengan melengkapi isi buku ini dengan kondisi Poso terkini,” kata Gubernur Longki Djanggola.

Kepala Daerah yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng itu lantas mengisahkan hal ihwal dimulakannya Operasi Tinombala.

“Saat itu saya bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, lalu Presiden Joko Widodo bersama perwakilan masyarakat Poso meminta agar konflik Poso diselesaikan menyeluruh. Setelah itu kemudian Presiden meminta agar Kapolri dan Panglima TNI melakukan operasi besar-besaran yang kelak kemudian dikenal sebagai Operasi Tinombala,” kisah Longki.

Sayang memang bila kehadiran buku ini masih dengan mudah membangun stigma bahwa Poso tak aman bagi orang di luar Sulawesi Tengah. Karenanya saran Gubernur Longki harus jadi perhatian penulis. Paparan soal Deklarasi Malino rasa-rasanya juga tak haram bila dimasukkan sebagai bagian dari buku ini.

Apalagi sadar atau tidak sadar, buku ini memperlihatkan kecenderungan dukungan Tito pada Jokowi – Jusuf Kalla pada saat kampanye di Papua. Meski penulis memilih menulis bagian ini sebagai penegasan bahwa Tito ‘hanya’ melaksanakan tugas memastikan rangkaian kampanye Pemilihan Presiden berlangsung aman dan damai. (jgb)

SultengEkspres

SultengEkspres

Related articles

Sorry, no posts were found.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *