Ibu Gubernur Minta Pemerintah Tak Lagi Impor Cabai
April 13, 2017
SultengEkspres (757 articles)
0 comments
Share

Ibu Gubernur Minta Pemerintah Tak Lagi Impor Cabai

Donggala, SultengEkspres.com – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Tengah Hj Zalzulmida Aladin Djanggola mengatakan Kementerian Pertanian RI tidak perlu lagi mengimpor cabai untuk memenuhi kebutuhan cabai di Indonesia. Sebab, di Sulawesi Tengah, khususnya di Donggala, sudah bisa memanen cabai meskipun di luar musim cabai.

“Menteri pertanian tak perlu lagi mengimpor cabai, bila program ini berjalan lancar.” Demikian Ibu Gubernur Sulteng, Zalzulmida Aladin Djanggola di sela-sela panen perdana cabai di Desa Labuan Toposo Kecamatan Labuan Kabupaten Donggala, Rabu 12 April 2017.

Sebab, ketika daerah lain menunggu musim tertentu untuk menanam cabai, di Sulteng bisa ditanam di non musim, atau disebut cabai Off Season. Pada panen perdana ini, ada tiga varietas yang dilepas yaitu Tanjung 2, Lingga dan Lado. Ketiga varietas ini mempunyai keunggulan tahan terhadap genangan air serta produksinya tinggi.

Zalzulmida secara khusus datang ke panen perdana yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian Tanaman Pertanian ini karena komitmennya kepada Menteri Pertanian RI, untuk mendukung program Kementan.

Soal komitmen Zalzulmida ini disampaikan pula oleh Staf Ahli Bidang Inovasi dan Teknologi Pertanian Kementan RI, Dr Ir Mat Syukur M.S. Menurut Mat Syukur, Zalzulmida lah yang paling lugas menyatakan mendukung program Kementan RI saat rapat koordinasi Kementan dengan TP PKK se Indonesia di Hotel Bidakara Jakarta dua bulan lalu.  “Kami mengapresiasi komitmen Ketua PKK Sulteng yang saat itu dengan lugas menyatakan kesiapannya menyambut program Kementan Upsus Cabai Bawang,” ungkap Mat Syukur saat memberi sambutan.

Sebenarnya, jauh sebelum Menteri Amran Sulaiman mencanangkan gerakan menanam kepada ibu-ibu Rumah tangga, Zalzulmida bersama PKK Sulteng sudah membangun  “show windows” di sebuah lahan terbuka seluas 5 Hektar yang ditanami berbagai tanaman. Lokasinya berada di tengah kota Palu, di Karajalembah. Di area itu ditanami berbagai tanaman mulai dari cabai, tomat, terong, hingga tanaman kelor.

“Saya ingin membangunnya seperti di Bangkok (Thailand). Yang nantinya suatu saat bisa menjadi agrowisata,” ujar Zalzulmida di hadapan undangan dan  petani. Hadir pada acara itu, staf ahli Kementerian Pertanian, Mat Syukur, Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayur (Balitsa) Kementan RI, Dr Ir Catur Hermanto MP, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulteng, Abdullah K, Ketua TP PKK Sigi, serta tamu dan undangan juga petani dari beberapa kecamatan di Donggala.

Pada kesempatan itu, Zalzulmida menitip pesan melalui Staf Ahli Kementan, kepada Menteri Amran Sulaiman tentang komitmen PKK Sulteng membantu Program Kementan. “Kami punya semangat dan motivasi yang tinggi untuk bekerja. Tapi tolong kami dibantu.  Karena kami tak punya alat untuk mengelola tanah, kami juga tak punya pengetahuan yang memadai soal pertanian, tolong dibantu penyuluhan,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Sulteng ini.

Zalzulmida juga mengingatkan bahwa pihaknya menunggu alat untuk pengolahan tanah yaitu Kultivator yang dijanjikan Mentan untuk PKK Sulteng. Kami masih menunggu kehadirannya,” ujar Ibu dua orang putera ini. Juga alat untuk membongkar semak-semak untuk membuka lahan.

Mantan Kadis Transmigrasi Donggala itu menandaskan pihaknya bisa memobilisasi PKK kabupaten terdekat bila disiapkan peralatan yang dibutuhkan. Menurut dia bila ada alat pertanian untuk PKK, Kementan bisa menitipkan alat tersebut di dinas terkait misalnya Dinas Pertanian. Dengan demikian kata dia, peralatan tersebut akan berguna bagi banyak pihak. Alat tersebut berfungsi sebagaimana mestinya.

Kepada Staf Ahli Kementan dan Kepala Balitsa, Zalzulmida menegaskan bahwa di Sulteng masih banyak kabupaten yang bisa dikembangkan untuk pertanian. Bahkan dua kabupaten di kepulauan seperti Tojo Unauna dan Banggai Kepulauan juga memiliki lahan pertanian.

“Kalau mau mengembangkan pertanian di Sulteng datang juga ke kabupaten lain seperti di Tojouna dan di Kepulauan itu. Sebab di sana juga ada lahan pertanian,” tandasnya.

Kepala BPTP Sulteng Andi Bassolo  mengatakan meskipun luasan panen perdana kali ini belum sesuai dengan harapan, namun ini sudah membuktikan hasil inovasi terhadap tanaman Cabai sebagai program strategis Kementan  selain Padi, Jagung dan Kedelai.

“Cabai ditanam pada musim tertentu, tetapi BPTP bisa tanam cabai diluar musim. Sepanjang mengikuti standar teknologinya,” ujar Andi Bassolo.

Mat Syukur, staf Ahli Kementan, mengatakan kegembiraannya dari hasil panen di lahan milik petani bernama Nawir ini. Dari satu Hektar lahan menghasilkan 17 ribu pohon. Dan hampir seluruh tanamannya baik.

Menurut Catur, kebutuhan akan cabai secara nasional hanya 800 ribu ton per tahun. Sebenarnya dengan rata-rata produksi cabai mencapai 1,2 juta ton per tahun, kebutuhan ini tercukupi. “Namun karena pada musim tertentu cabai tidak tumbuh merata, sehingga menjadi defisit. Biasanya terjadi pada bulan Oktober, November Desember,” tandasnya.

Lalu Sulteng menjadi salah satu daerah pilihan untuk mengembangkan cabai yang non musim. Sulteng sendiri tak pernah kekurangan cabai. Bahkan sudah mengekspor sebagian produksi cabai dan sayurannya ke Kalimantan. ” Pak Nawir mengaku badu pertama kali menanam cabai, dan dia senang karena produksinya bagus dan harga dipasarannya bagus Rp18 ribu per kg,” ujar Dr Catur. (aaa)

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *