Kepemimpinan yang Mengacaukan
November 8, 2016
SultengEkspres (767 articles)
0 comments
Share

Kepemimpinan yang Mengacaukan

Oleh: Tasrief Siara (Jurnalis Senior)

GAYA kepemimpinan apalagi gaya komunikasi Gubernur Non Aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menarik untuk dijadikan objek perbincangan, untuk tak kita menyebut objek studi apalagi penelitian, nanti terlalu ribet kajiannya. Karena persoalan gaya kepemimpinan dan komunikasi itu, ia menjadi headline pemberitaan dan perbincangan jutaan orang apalagi pada empat November kemarin.

Jika begitu, bagaimana kita bisa memahami gaya dan karakter kepemimpinan Ahok itu? Boleh jadi pada diri kita juga. Jawabannya mungkin kita bisa pinjam dari budayawan Emha Ainun Nadjib yang pernah menulis begini, kepemimpinan yang baik itu setidaknya mengintegrasikan tiga dimensi yang menyatu dalam diri seorang pemimpim. Pertama pertama adalah kebersihan hati. Kedua kecerdasan pikiran, serta ketiga keberanian mental.

Ketiga dimensi kepemimpinan itu adalah satu kesatuan yang melahirkan karakter kepemimpinan yang baik. Jika hanya satu dimensi yang dimiliki, maka pemimpin yang demikian itu hanya melahirkan masalah bahkan kekacauan.

Apa kaitannya jika hanya satu dimensi yang menonjol bisa melahirkan masalah dalam kepemimpinan? Begini ceritanya, jika seorang pemimpin hanya memiliki kebersihan hati saja tanpa didukung kecerdasan intelektual dan keberanian mental, maka kepemimpinannya tak bisa membawa perubahan yang diharapkan, bahkan cenderung stagnan atau hanya jalan ditempat. Kebersihan hati itu mutlak diperlukan seorang pemimpin, namun apalah arti kebersihan hati jika seorang pemimpin tak punya keberanian untuk mengambil keputusan misalnya.

Bagaimana jika seorang pemimpin itu hanya memiliki kecerdasan pikiran, tapi tak punya kebersihan hati apalagi keberanian mental. Jika seperti itu karakternya, maka tipe pemimpin yang demikian hanya pandai bicara, pidato sarat dengan retorika tapi miskin implementasi.

Saya yakin anda pasti bisa memetakan bahkan merasakan gaya kepemimpin demikian, paling tidak lingkup terkecil anda di tempat kerja. Kalau bicara pandai sekali, argumentasinya sulit didebat, tapi orang bilang hanya banyak cerita, karena apa yang dibicarakannya tak terlihat di tingkat realitas. Keputusan-keputusannya cenderung merusak harmoni dalam lingkungan kerja karena baginya segala yang terbaik ada dalam pikirannya yang lain salah. Tipe pemimpin yang begini terkadang sangat sulit menerima saran karena yang dianggap paling betul adalah pikirannya sendiri.

Kalau yang terakhir, jika seorang pemimpin hanya memiliki keberanian mental saja tanpa ada kebersihan hati dan kecerdasan intelektual, maka yang akan terjadi hanyalah menciptakan kekacauan di masyarakat. Tipe pemimpin demikian bicaranya suka ceplas ceplos, karena memang ia berani dan tak pernah takut apa implikasi yang akan terjadi jika ia bicara. Keberadaannya terkadang membuat kegelisahan dan ketakutan bawahannya. Bawahan memberi rasa hormat namun penuh kepalsuan karena takut dipecat atau diturunkan dari jabatannya.

Nah, kembali ke gaya kepemimpinan Ahok untuk sebuah contoh, boleh jadi ada pada kita juga, menurut anda Ahok atau mungkin anda juga saya, menonjol pada dimensi yang mana yah? Apakah telah mengintegrasikan secara seimbang aspek kebersihan hati, kecerdasan intelektual dan keberanian mental? Yang jelas bekas Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln pernah berucap begini, “Jika anda ingin menguji karakter sejati seseorang, beri dia kekuasaan”.

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *

27 − 24 =