Kita Tak Lagi Bisa Melihat Senyum “Bunda Maria”
March 17, 2017
SultengEkspres (757 articles)
0 comments
Share

Kita Tak Lagi Bisa Melihat Senyum “Bunda Maria”

Stop Kekerasan terhadap Perempuan, Sekarang Juga!!!

Dalam duka cita mendalam atas kepergian Maria Sandipu (37), salah seorang jurnalis perempuan di Palu, Sulawesi Tengah yang bekerja di Surat Kabar Harian Palu Ekspres.

Maria yang biasa saya sapa Bunda Maria, karena dia seorang Katolik yang taat selalu memasang segaris senyum saban waktu.

Maria adalah saksi korban yang bisu untuk selamanya karena kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat. Suami yang harus melindunginya justru menjadi pelaku kekerasan yang membuat jurnalis asal Flores, Nusa Tenggara Timur itu meregang nyawa.

Beruntung Maria, meski jauh dari keluarga batihnya, tak kurang banyak kawannya. Keperihan akibat kepulangannya meruyak sampai jauh. Itu meringankan beban keluarganya yang jauh.

Adalah Pemimpin Redaksi Palu Ekspres, Andi Anita Anggriany Amier yang kali pertama mengabari saya atas kepulangan Maria. Ia menelepon saya dengan isak tangis. Jurnalis perempuan ini tentu saja adalah orang yang paling merasa kehilangan atas Maria setelah keluarga besarnya. Wartawan Harian Fajar Makassar ini memastikan pengurusan jenazah hingga laporan ke Polisi dapat diselesaikan segera tanpa alangan.

“Dia orang yang setia. Ketika ada yang mengajaknya untuk meninggalkan Palu Ekspres, ia cuma bilang bila akan tetap membantu saya mengelola media ini dalam keadaan pasang surut apapun,” ungkapnya.

Lalu Yardin Hasan, rekan sekerjanya, lelaki yang banyak bicara dalam diamnya yang penuh makna terpekur dalam kedukaan.

Ada pula Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Muhammad Iqbal Rasyid, sosok jurnalis muda yang mengantar Maria tak cuma dengan do’a tapi mendampingi langsung saudara mendiang selama pengurusan jenazah.

Beruntung pula Maria, mempunyai teman seperti wartawan Kompas, Videl Jemali yang bertindak sebagai wakil keluarga sebelum keluarga batihnya tiba di Palu.

Bersyukurlah Maria karena banyak kawan pewarta di Palu tak cuma bersimpati tapi berempati atasnya.

Selamat jalan Maria. Tunai sudah tugas sucimu menjadi pewarta. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa menerimamu di Surga-Nya yang lapang dan indah.

Kami yang masih hidup mengenangmu dengan perih hati yang mungkin lama sembuhnya. Biarkanlah kami bersedih dan mengantarkan kepulanganmu dengan doa.

Jumat, 17 Maret 2017, hari ini kami jadikan monumen hati untuk terus menjadi pewarta yang mengabarkan betapa rantai kekerasan pada perempuan masih panjang dan berkelindan. (JGB)

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *