Tugas Teman Ahok
February 20, 2017
SultengEkspres (755 articles)
0 comments
Share

Tugas Teman Ahok

Oleh: Amran Nawier Amier*

PEMUNGUTAN suara Pemilihan Gubernur DKI Jakarta harus dilaksanakan dua kali. Soalnya, tak ada satupun kandidat yang meraih setengah lebih dari jumlah pemilih yang memberikan suara. Hasil ini memang telah diprediksikan jauh hari oleh banyak orang dan sejumlah lembaga.

Pasangan petahana Ahok-Djarot yang memenangi kontestasi putaran pertama hanya meraup 42 persen, sementara di bawah mereka, pasangan Anies-Sandi hanya berselisih tiga persen lebih suara. Sebuah angka, sekaligus pesan, betapa alotnya kontestasi putaran kedua nanti.

Memenangi putaran pertama dengan selisih tipis, jelas bukanlah prestasi yang membanggakan bagi calon dengan status petahana. Malah itu bisa dikatakan sebagai kekalahan. Bahkan, ada yang menduga, bila pemungutan suara putaran pertama dihelat di ujung pekan, bukan di tengah pekan, maka Anies-Sandilah pemenang putaran pertama. Elektabilitas Anies-Sandi yang terus merangkak naik berbanding Ahok-Djarot yang diam, menjadi alasan utama dugaan ini.

Bisa saja dugaan ini keliru. Namun, yang pasti, tantangan bagi Ahok-Djarot menuju ke putaran kedua, semakin rumit, semakin berat. Bayangan kekalahan jelas semakin membesar. Ahok-Djarot jelas tak bisa berjuang sendiri di kerumitan ini. Di titik ini, sudah saatnya, Teman Ahok menjalankan peran nyata.

Teman Ahok adalah sebuah frasa, organisasi sekaligus aktivitas yang sangat fenomenal di masa awal pemilihan. Saking fenomenalnya, pengaruh Teman Ahok bahkan meluas hingga ke seantero negeri. Hanya dalam hitungan hari, Teman Ahok mampu meraup sejuta lebih kopian KTP untuk mendukung Ahok maju melalui jalur independen. Jangankan di Jakarta, di daerah-daerah ada juga loh persona yang berkehendak mengajukan diri sebagai Teman Ahok. Sebuah fenomena yang luar biasa.

Sayang, secepat ia muncul, secepat itulah ia tenggelam. Frasa, organisasi dan aktivitas Teman Ahok nyaris tak terdengar lagi begitu Ahok memilih maju melalui jalur partai politik. Selaksa spekulasi bermunculan. Ada yang menyebut mereka kecewa. Ada yang bilang, mereka menjadi apatis. Namun, tak sedikit pula yang yakin, mereka pesimis, karena toh meski menang, Ahok takkan menjadi Gubernur karena akan divonis bersalah dalam kasus penodaan agama.

Benar atau tidak pelbagai spekulasi itu, bukan soal. Namanya juga spekulasi. Adalah bagaimana memenangkan Ahok-Djarot itu yang utama. Jelas peran Teman Ahok menjadi nyata dan penting dalam situasi ini. Mereka bisa menjadi solusi bagi Ahok-Djarot.

Reposisi adalah tugas utama Teman Ahok saat ini. Mereka harus mereposisi diri bahwa mereka bukan penggemar, bukan fans. Selama ini, begitulah kesan yang tercipta. Teman Ahok sekadar fans, bahkan semacam groupie, di hadapan Ahok. Mereka seolah tak memiliki posisi tawar. Kesan memang tak selalu benar, tapi ia hadir bukan tanpa alasan.

Inilah yang harus diubah. Bahwa Teman Ahok adalah pemilik kedaulatan Jakarta. Ahok, juga Djarot sekadar orang yang diberi mandat, diberi tugas. Dengan posisi ini, daya tawar Teman Ahok akan semakin kuat.

Selanjutnya adalah membangkitkan daya kritis. Dengan daya kritis, potensi gaduh Ahok diredam. Dengan daya kritis, potensi otoriter Ahok dipupus. Tanpa daya kritis, yakinlah Teman Ahok sedang menciptakan seorang diktator baru.

Saya warga Palu. Saya jelas bukan pendukung Ahok. Saya mengapresiasi kinerja Ahok sebagai Gubernur, tapi sungguh tak respek dengan ucapannya yang kasar dan niretika. Adalah tugas Teman Ahok untuk mengubahnya. Itu pendapat saya.***

*Junalis Senior Berbasis di Palu

SultengEkspres

SultengEkspres

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *